Sejarah

Sejarah P3AI

Berdirinya P3AI berawal dari adanya program yang diluncurkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) melalui Direktorat Ketenagaan pada tahun 2007, bahwa  agar di setiap perguruan tinggi baik negeri maupun swasta untuk membentuk Pusat Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional (P3AI). Saat itu dari kira-kira 2700 perguruan tinggi di Indonesia, termasuk politeknik, baru 81 perguruan tinggi yang memiliki unit sejenis P3AI, 48 perguruan tinggi negeri, 22 perguruan tinggi swasta, dan 11 politeknik.

Program tersebut dilatar belakangi bahwa dalam upaya menghadapi masa mendatang yang penuh dengan persaingan yang semakin ketat, setiap perguruan tinggi dituntut untuk, meningkatkan mutu lulusannya agar siap dan dapat berpartisipasi dalam pembangunan. Untuk menjawab tantangan tersebut, dalam Higher Education Long Term Strategies (HELTS) 2003-2010, Ditjen Dikti mecanangkan tiga kebijakan utama dalam pengembangan pendidikan tinggi, yaitu daya saing bangsa (nations competitiveness), otonomi (autonomy), dan kesehatan organisasi (organizational health) berdasarkan tiga asas, yaitu kualitas pendidikan, akses dan pemerataan pendidikan, serta otonomi pendidikan. Ada lima isu strategis untuk mewujudkan daya saing bangsa, yaitu persatuan bangsa, globalisasi, pendidikan dan penelitian, diferensiasi misi, serta akses terhadap pengetahuan. Sementara itu, untuk mewujudkan otonomi, ada dua isu strategis, yaitu peralihan peran dari Ditjen Dikti, serta tanggung jawab sosial. Isu strategis dalam kesehatan organisasi meliputi pengembangan kapasitas institusi, pengelolaan perguruan tinggi, keuangan, sumberdaya manusia, dan penjaminan mutu.

Di samping HELTS sebagaimana dicanangkan pada tahun 2003, dan dalam upaya menjawab beragam tantangan dalam dunia pendidikan tinggi, Ditjen Dikti mencanangkan kebijakan pembangunan lima tahun 2005-2010. Dalam kerangka visi Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif 2025, Ditjen Dikti mencanangkan tiga program strategis, yaitu: 1) pemerataan dan perluasan akses, 2) mutu, relevansi dan daya saing, 3) governance, akuntabilitas, dan pencitraan publik.

Universitas Pasundan, sebagai bagian dari komunitas Pendidikan Tinggi di Indonesia yang konsen terhadap upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan sangat berkepentingan untuk ikut serta dalam program hibah ini ketika itu. Melalui P3AI, diharapkan kualitas, efektivitas, efisiensi, dan produktivitas proses pembelajaran akan mempercepat pencapaian visi, misi, dan tujuan Universitas Pasundan yang telah dicanangkan. Untuk itu maka dibentuklah tim penyusun proposal hibah dengan Ketua Ir. Gatot Santoso, M.T. dan Sekretaris Dr. Cartono, M.Pd., M.T. Anggota Dr. Ir. Yusep Ikrawan, M.Sc., Oman Heryaman, S.IP., M.Si. (almarhum).

Tujuan kehadiran P3AI di Universitas Pasundan diharapkan dapat membantu proses peenyelenggaraan pembelajaran yang serasi dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. P3AI yang dibentuk dan dikembangkan harus dapat berperan untuk melakukan kajian, evaluasi, analisis, dan interpretasi yang handal dan sahih agar pimpinan perguruan tinggi selalu dapat memperoleh gagasan dalam perencanaan pengembangan pendidikan, menyediakan layanan dan bantuan kepada staf akademik untuk peningkatan kemampuan dalam proses pembelajaran, dan bersama dengan unit kerja yang relevan melakukan evaluasi hasil dan proses pembelajaran yang ditujukan untuk peningkatan kualitas yang berkelanjutan. Sampai pada akhirnya, diharapkan unit/pusat tersebut dapat berfungsi sebagai point of reference dalam pengambilan kebijakan dalam hal mutu pendidikan, sistem, dan efektivitas kegiatan pembelajaran di Universitas Pasundan

Secara resmi P3AI berdiri berdasarkan SK Rektor Nomor 56 tahun 2007, dengan struktur Ketua dan Sekretaris yang masing-masing di Jabat oleh Ir, Gatot Santoso, M.T. dan Sekretaris Dr. Cartono, M.Pd., M.T. hingga sekarang. Pada saat itu lembaga lain yang sama-sama dibentuk adalah Sistem Penjaminan Mutu (SPM) dan Satuan Pengawas Internal (SPI).  Bagi Unpas kehadiran lembaga-lembaga baru tersebut menunjukan komitmennya dalam hal pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, dan bahkan dengan misi Khusunya yakni Agama Islam dan Budaya Sunda. Karena telah dibentuk lembaga-lembaga yang menjadi gugus tugas untuk melaksanakan dan mengkoordinasikan kegiatan tridharma secara nyata. Pendidikan dan pengajaran didukung oleh P3AI, Penelitian di dukung oleh Lemlit, Pengabdian di dukung oleh LPM, Agama Islam didukung oleh LP2SI dan Budaya Sunda di dukung oleh  Lembud.

Beberapa program dan kegiatan yang telah dilaksanakan adalah 1) Sosialisasi P3AI bagi Civitas Akademika Universitas Pasundan; 2) Seminar P3AI dan 3) Diklat-diklat P3AI yakni Diklat AA dan PEKERTI baik bagi dosen-dosen dilingkungan Unpas maupun maupun dosen-dosen Perguruan Tuinggi lain.

Sosialisasi dimaksudkan untuk menyebarluaskan gagasan dan informasi mengenai rencana pembentukan P3AI kepada pihak-pihak terkait di Universitas Pasundan. Sosialisasi dilakukan terhadap anggota senat guru besar, pimpinan universitas, lembaga-lembaga di tingkat universitas, pimpinan fakutas, pimpinan program studi, dosen dan mahasiswa.

Seminar sebagai kegiatan awal P3AI diselenggarakan dengan menghadirkan dua pembicara yakni Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Sc. Ketua P3AI Universitas Gajah Mada dan  Dr. Cecilia Esti Nugraheni, dari Universitas Katolik Parahyangan. Seminar dilaksanakan pada tanggal 31 Juli tahun 2007, dihadiri 57 dosen dari 25 program studi di lingkungan Unpas dengan tema: Meningkatkan Kesadaran Dosen dalam Meningkatkan dan Mengembangkan Kualitas Pembelajaran dimaksudkan selain untuk memperoleh sejumlah informasi tentang pengalaman pelaksanaan lembaga P3AI di Universitas lain khususnya di Universitas Gajah Mada (UGM) dan pemanfaatan teknologi informasi juga sebagai wahana sosialisasi keberadaan P3AI di Universitas Pasundan.

Selain seminar program utama P3AI adalah melaksanakan Diklat AA dan PEKERTI, kegiatan Diklat yang setara dengan Akta V ini telah berlangsung selama 4 Angkatan. Dua angkatan diantaranya khusus diikuti oleh dosen-dosen Unpas. Angkatan pertama dan kedua diselenggarakan dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga instruktur untuk mengisi kekurangan instruktur PLPG sertifikasi guru yang diselenggarakan oleh FKIP Unpas. Sesuai ketentuan bahwa untuk dapat menjadi instruktur PLPG harus memiliki bidang ilmu pendidikan baik jenjang S1, S2 atau S3 atau memiliki Akta V, AA atau PEKERTI. Angkatan pertama dilaksanakan pada tanggal 20-24 April 2010 yang diikuti oleh 30 orang peserta. Angkatan kedua kedua dilaksanakan pada tanggal 21-26 Mei 2011 yang diikuti oleh 30 peserta. Sementara angkatan ketiga yang dilaksanakan pada tanggal 18-20 April 2013 khusus diikuti oleh 34 dosen dari Politeknik Pos. Angkatan ke-4 diselenggarakan pada tanggal 2-5 September tahun 2015 bagi 50 dosen dari Universitas Majalengka (UNMA).

Seiring dengan berbagai perubahan dalam bidang teknologi pembelajaran baik konsep, alat dan bahan serta semakin beragamnya sumber-sumber pembelajaran, menjadikan P3AI semakin penting urgensinya untuk dioptimalkan sebagai garda terdepan dalam meningkatkan kemampuan dikdaktik-metodik dosen dalam melaksanakan pembelajaran.