Penugasan Dosen di Sekolah

Sekretaris P3AI Universitas Pasundan

Program Penugasan Dosen di Sekolah (PDS) memiliki sifat simbiosis mutualisme, artinya menguntungkan kedua belah pihak, baik pihak sekolah maupun pihak dosen dan LPTK (Sebagai ujung tombak peningkatan kualitas Intruksional), adapun keuntungan untuk pihak sekolah diantaranya yaitu : 1) guru-guru mendapatkan inovasi-inovasi pembelajaran yang dibawa oleh pihak perguruan tingg ke sekolah, 2) guru-guru mendapatkan ilmu bahwa untuk melakukan suatu pembelajaran yang baik tidak hanya cukup dengan trial and error, namun harus ada dasar keilmuan secara teoritis untuk melakukan berbagai hal di sekolah, 3) dosen dapat menjadi agen perubahan terhadap berbagai sistem manajemen, mulai dari kurikulum, administrasi, dan berbagai tata kelola lainnya, sehingga dapat meningkatkan mutu sekolah, dan 4) dosen dapat menularkan virus-virus Lesson Study yang menerapkan prinsip Continuous Improvement, sebagai bentuk perbaikan pembelajaran di sekolah secara berkesinambungan, serta 5) guru-guru yang ada dilapangan dapat meperoleh ilmu baru mengenai penerapan teknologi mutakhir di sekolah, karena PDS yang kami berikan yaitu berbasis  Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK), sehingga teknologi, konten, dan ilmu mendidiknya pun berkembang, sedangkan keuntungan untuk pihak dosen dan LPTK diataranya yaitu : 1) dosen dapat memperoleh gambaran empiris mengenai kondisi real di sekolah, sehingga dapat menjadi bahan untuk diberikan kepada mahasiswa, 2) dosen dapat mengimplementasikan inovasi-inovasi yang muncul di perguruan tinggi dengan baik, sehingga dapat mereduksi tantangan dan kekurangan yang ada dan sebelumnya tidak mereka duga dari inovasi yang mereka bawa karena mereka mengimplementasikannya langsung di sekolah, 3) dosen memperolah tambahan pengetahuan sebagai pondasi untuk memperkuat kualitas PPG (Pendidikan Profesi Guru) yang merupakan garda terakhir sebagai pencetak guru profesional, 4) dosen memperoleh masukan dari berbagai situasi dan kondisi sekolah serta dari berbagai pihak yang terlibat di sekolah, sehingga dapat menjadi acuan yang akan dibawa kepada tingkat pemangku kebijakan (decision maker) mengenai efektivitas dan efesiensi dari berbagai kebijakan yang telah digulirkan, sehingga kebijakan tidak terkesan top-down namun bottom-up, 5) Dosen mendapatkan pengalaman baru bagaimana cara menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda agar dapat diterima oleh semua kalangan, 6) Dosen mendapatkan pengalaman bagaimana caranya agar suatu inovasi dapat diterima tanpa adanya resistensi yang berarti, 7) LPTK mendapatkan mitra yang harmonis untuk berbagai program lanjutan yang mungkin ada.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 4 =